Vokasi Indonesia Bisa!

by junior Eka Putro

Vokasi Indonesia Bisa!

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia justru didominasi oleh lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK).

 

Kalimat di atas diambil dari tajuk berita ekonomi Okezone tanggal 14 Juli 2020. Dan pernyataan ini mengacu pada komentar Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan (Kabarenbang) Kemnaker Tri Retno Isnaningsih. 

 

Retno mengatakan bahwa porsi angka TPT Indonesia untuk lulusan SMK mencapai 8,49%. Dan angka ini tertinggi di Indonesia. Porsi TPT terbesar selanjutnya berasal dari lulusan sekolah menengah atas (SMA) dengan angka 6,77%, Diploma I-III sebesar 6,76%, universitas 5,73%, sekolah menengah pertama (SMP) sebesar 5,02%, dan sekolah dasar (SD) dengan angka 2,64%.

 

“Angka di atas adalah persentase dari total pengangguran terbuka di Indonesia sebanyak 6,88 juta orang,” imbuh Retno.

 

Sementara itu, untuk data penduduk bekerja dengan total 132,03 juta orang, didominasi oleh lulusan SD yaitu sebesar 38,89%, SMA 18,34%, SMP 17,93%, SMK 11,82%, universitas 10,23%, dan diploma I-III 2,79%.

 

“Dari unsur pendidikannya mayoritas dari tenaga kerja ini adalah lulusan SD, ada sebanyak 38,89%,” pungkasnya.

 

Agak miris memang melihat data ini. Terlihat, serapan pekerja di tingkat SMP ke atas malah kalah dibanding yang lulus SD. Dan semakin miris lagi, saat kita tahu banyak lulusan studi vokasi yang tidak terserap sebagai tenaga kerja.

 

Menurut Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, di acara Sarasehan Virtual 100 Ekonom: Transformasi Ekonomi Indonesia Menuju Negara Maju dan Berdaya Saing yang ditayangkan langsung CNBC Indonesia, Selasa (15/9/2020), masih banyak PR dalam peningkatan kualitas lulusan SMK.

 

“Walau revitalisasi SMK periode pertama Pak Jokowi di mana saya yang mengerjakan, dari 15 ribu SMK itu yang baru ditangani 4 ribu. Sisanya SMK apa adanya. Bahkan sering ada anekdot SMK kebudayaan karena nggak ada laboratorium, pusat keterampilan dan lain sebagainya,” kata Muhadjir.

 

***

 

Terkendalanya fasilitas membuat jurusan yang tersedia pun banyak yang tidak sesuai kebutuhan. Hal itu membuat pembangunan menjadi terganggu, di mana kebutuhan dari satu bidang tidak terpenuhi, sementara banyak tenaga kerja tidak terserap karena kebutuhan yang lebih sedikit.

“SMK kita sebagian besar yang jurusannya nggak sesuai pasar. Misal perkantoran, padahal sudah diambil robot, artificial intelligence (AI). Sedangkan jurusan elektronik, pariwisata yang memang dibutuhkan justru kecil, karena kesulitan bengkel laboratorium atau fasilitasnya,” ujar Muhadjir.

 

Hal itu patut disayangkan karena saat ini Indonesia sedang menghadapi bonus demografi. Perlu perhatian lebih besar dalam mengelola SDM berkelanjutan, apalagi Indonesia dan seluruh dunia saat ini sedang menghadapi pandemi Covid-19.

 

Lantas, apa yang harus dilakukan. Sepertinya, diperlukan pelatihan tambahan untuk teman-teman lulusan SMK di luar sana, agar bisa menyamakan standar dengan yang dibutuhkan industri. Untuk itu, memang negara sudah menyediakan beberapa pelatihan. Salah satunya dengan menyelenggarakan beberapa beasiswa untuk pemantapan kemampuan digital.

 

Untuk teman-teman yang baru masuk SMK, ada baiknya juga mencoba untuk mendekatkan diri dengan teknologi. Memahami teknologi, terutama dalam bidang peminatan yang dipilih. Dan memperkaya diri melalui berbagai cara.  Dengan memahami digital, dan mencoba untuk menjadi talenta melek digital, kita sudah bisa setidaknya mendekati standar yang dibutuhkan industri. 

 

***

 

Selain menyiapkan pelatihan, proses mengangkat kualitas pendidikan vokasi juga dilakukan dengan meningkatkan kualitas guru. Membuat guru-guru lebih melek teknologi juga dilakukan lewat salah satu program beasiswa yang dijalankan oleh Kemkominfo. 

 

Selanjutnya, meningkatkan kerja sama antara sekolah dan industri untuk menyalurkan lulusan juga dinilai bisa jadi salah satu jalan keluar. Memastikan lulusan bisa terpakai, dengan memperhatikan standar kebutuhan perusahaan bisa menjadi jalan yang baik untuk meningkatkan kualitas lulusan.

 

Namun bagaimana dengan lulusan SMK yang sekolahnya tidak terkoneksi dengan perusahaan untuk penyaluran kerja? Mencoba jadi pekerja lepas merupakan pilihan logis. Dan kami melalui website bantukerja.com membantu lulusan SMK yang tertarik untuk bekerja berdasarkan proyek, menemukan berbagai pekerjaan yang bisa digeluti.

Jika tertarik, boleh langsung buka webnya. Daftarkan nama kamu di sana, dan cobalah untuk mencari pekerjaan berbasis proyek di dalamnya. 

Selain itu, web ini juga dilengkapi beberapa modul yang bisa diakses untuk meningkatkan skill kita sebagai pekerja lepas. Jadi, tunggu apa lagi. Langsung buka webnya, dan lihat berbagai informasi yang ada di sana!

 

STILL NOT SURE WHAT TO DO?
We are glad that you preferred to contact us. Please fill our short form and one of our friendly team members will contact you back.
Form is not available. Please visit our contact page.
X