serba-serbi screentime pada Anak

Serba-serbi Screen Time Pada Anak

Kadang, kita orangtua sering merasa khawatir saat melihat anak sibuk di perangkat digital. Berjam-jam bisa dihabiskan di gawai untuk menyaksikan YouTube, bermain game di aplikasi, atau malah bermain video game di layar TV.

Belakangan, kekhawatiran kian bertambah. Terutama, saat pembelajaran jarak jauh (PJJ) dilakukan karena pandemi COVID-19. Belajar di rumah membuat manajemen waktu bergawai sedikit berantakan. 

Saat biasanya gawai hanya digunakan untuk rekreasi, maka selama PJJ agak berbeda kondisinya. Dengan adanya PJJ, gawai juga digunakan untuk proses belajar mengajar. Alhasil, konsumsi layar pada anak jadi semakin meningkat.

Lantas, berapa lama sebenarnya waktu yang pas dan sehat menghabiskan waktu di depan layar gawai untuk anak-anak?

Menjawab pertanyaan ini, peneliti di University of Alberta dan University of Iowa sepakat bahwa memang ada lama screen time yang sehat untuk anak, sesuai usianya. Bahkan, hasil studi mereka menyebutkan juga kalau anak-anak bisa sulit berkonsentrasi kalau terlalu sering menghabiskan waktu di depan layar, terutama saat masih balita.

U.S. Centers for Disease Control and Prevention merekomendasikan bahwa anak-anak di bawah 18 bulan tidak seharusnya dikenalkan pada layar. Kecuali saat melakukan panggilan video call dengan kerabat. Saat usianya bertambah, waktu screen time yang sehat untuk balita adalah 1 jam. Setelahnya, anak-anak usia sekolah boleh menghabiskan waktu paling lama 2 jam di depan layar.

Sayangnya, fokus orangtua justru lebih kepada lamanya seorang anak menghabiskan waktu di depan layar, bukan pada aktivitas atau konten-nya. Padahal, dengan PJJ yang bisa diperpanjang entah sampai kapan, ada baiknya kita melangkah maju, dengan beralih fokus pada bagaimana membimbing anak menghabiskan waktu screen time-nya dengan lebih baik

Saat masih balita, kenalkanlah anak dengan konten lewat gawai yang sifatnya interaktif yang bisa membangun pola pikir anak bahwa teknologi membantu menghubungkannya dengan orang lain (technology as connection tools). Selain juga, balita butuh kegiatan yang mematangkan sensori-nya, sehingga konten yang mengajak mereka bergerak secara aktif sambil bermusik, menjadi pilihan konten yang edukatif.

Tentunya jangan berhenti setelah PJJ berakhir. Terus lakukan ini saat anak masuk sekolah. Bantu mereka belajar dengan mengoptimalkan screen time-nya untuk kegiatan yang aktif, tidak sekedar pasif menonton saja. Kuncinya dalah mendampingi mereka, sehingga saat akan “sekedar menonton” pun tetap ada diskusi yang terjadi. 

Bagaimana kalau waktu screen time-nya melewati rekomendasi di atas? Tidak apa-apa sebenarnya. Asal, tidak terlalu panjang jaraknya. Selama kontennya dijaga, screen time pada anak bisa jadi amat bermanfaat untuk tumbuh kembangnya. Dan justru menjadikannya generasi digital yang mumpuni hari ini dan di masa depan. Yang penting sebagai orangtua, tetap reflektif dan memiliki komunikasi yang baik dengan anak, sehingga jika ada “kesalahan-kesalahan” kecil terjadi, selalu ada kesadaran untuk memperbaiki.