Sebutuh Apa Indonesia pada Talenta Digital?

by Yayasan Matahati Kita

Sebutuh Apa Indonesia pada Talenta Digital?

Proses transformasi digital di Indonesia membutuhkan banyak sekali talenta digital. Hari ini hingga tahun 2030, kebutuhannya mencapai 9 juta orang.

 

Dunia saat ini tengah mengalami Revolusi Industri yang ke-4. Ditandai dengan terjadinya pembauran (fusion) teknologi yang menghapus batas-batas penggerak aktivitas ekonomi, baik dari perspektif fisik, digital, maupun biologi. 

 

Sejak tahun 2012 lalu pemerintah Jerman telah memperkenalkan konsep baru pemanfaatan teknologi yang disebut dengan Industrie 4.0. Industrie 4.0 merupakan salah satu pelaksanaan proyek Strategi Teknologi Modern Jerman 2020 (Germany’s High-Tech Strategy 2020). 

 

Implementasi untuk strategi tersebut, seperti yang dikutip dari www.gtai.de, Industrie 4.0, akan diwujudkan melalui peningkatan pada teknologi sektor manufaktur, penciptaan kerangka kebijakan strategis yang konsisten, serta penetapan prioritas tertentu dalam menghadapi kompetisi global. 

 

Dalam Industri 4.0, berlangsung otomatisasi dari manufaktur tradisional dan praktik industri, menggunakan teknologi pintar modern. Integrasi komunikasi mesin ke mesin (M2M) dan Internet of Things (IOT) mampu meningkatkan otomatisasi, meningkatkan komunikasi antar mesin, menghadirkan sistem pemantauan diri, memproduksi mesin pintar yang mampu menganalisa dan mendiagnosa masalah tanpa perlu campur tangan manusia.

Semuanya bisa terjadi karena berkembangnya teknologi digital beberapa tahun belakangan. Teknologi ini sudah semakin merasuk dan menjadi bagian gaya hidup sehari-hari.

 

Di Indonesia, penggunaan teknologi digital sudah terasa beberapa tahun belakangan. Menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika dan survei We Are Social, jumlah pengguna internet meningkat hampir 100 juta orang dalam waktu hanya 5 tahun dari tahun 2015-2020. Selain itu, penetrasi penggunaan internet pun meningkat pesat, dari 35% di tahun 2015, menjadi 68% di tahun 2020.  

 

Laporan We Are Social 2020 juga menyebutkan bahwa jumlah koneksi ponsel Indonesia sudah mencapai 338,2 Juta. Angka ini memiliki prosentase 124% jika dibandingkan jumlah populasi di Indonesia yang hanya berjumlah 272,1 juta. Dari jumlah koneksi ponsel tersebut, 175,4 juta di antaranya aktif  menggunakan internet 

 

Data menarik lainnya, angka pertumbuhan pengguna internet di Indonesia cukup tinggi. Hari ini, masih menurut We Are Social, pertumbuhan koneksi ponsel di Indonesia per tahun mencapai 4,6%. Dan, pertumbuhan pengguna internet per tahun mencapai 17%. Angka ini jauh di atas angka pertumbuhan populasi per tahun yang ada di kisaran 1,1%.

 

Dari sisi penggunaan, rerata masyarakat Indonesia menghabiskan hampir 8 jam sehari, atau 1/3 waktu hidupnya untuk berselancar di internet. Entah itu menggunakan media sosial, berbelanja di toko online, atau sekadar menikmati video dan musik.

 

Transformasi digital, pintu masuk menuju Industri 4.0 sudah berjalan. Dan, dari hari ke hari, semakin banyak perusahaan di Indonesia melakukan transformasi digital. Mengubah model bisnisnya, membangun kapabilitas SDM, dan menyesuaikan produk dan servisnya untuk bisa menyerap kondisi ini.

 

Dan rasanya, proses transformasi digital di Indonesia akan semakin cepat terjadi. Pemantiknya adalah Pandemi COVID-19 yang telah mengubah kebiasaan hidup manusia di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kondisi berjarak dan isolasi yang lahir dari pencegahan pandemi ini, membuat gaya hidup digital semakin cepat meluas. Mulai dari pola pembelanjaan, pola belajar, hingga pola berbank berubah total. 

 

Semuanya menjelma daring, dan Nielsen menyebut dalam risetnya bahwa perubahan gaya hidup ini akan terus bertahan. Bahkan selepas pandemi berlalu. Ini adalah hal yang sangat perlu diperhatikan oleh pelaku industri di Indonesia, baik industri besar maupun UMKM. Mendorong semuanya melakukan transformasi digital secepat mungkin, dan beradaptasi dengan perubahan.

 

Industri 4.0 sebenarnya sudah cukup akrab bagi sebagian pelaku industri di Indonesia. Terutama, pelaku industri teknologi. Bermunculannya banyak start up berbasis teknologi beberapa tahun terakhir adalah buktinya. Dan hari ini, beberapa start up di Indonesia sudah menjelma menjadi start up terkemuka di Asia.

 

Di lingkup Asean, Indonesia meraja dengan menempatkan 4 dari 6 start up unicorn yang ada di wilayah Asia Tenggara.Di belakangnya, sudah bersiap beberapa start up yang hari ini masih dalam kategori Centaur, untuk menjadi Unicorn baru di dunia start up.

 

Berbekal data ini, wajar jika Indonesia diproyeksikan akan menjadi salah satu pemain utama di bidang ekonomi digital Asia. Google dan Temasek Research memproyeksikan bahwa Indonesia akan menjadi yang terdepan di ekonomi digital Asean di tahun 2025.Dengan GMV mencapai 133 Milyar Dollar di tahun 2025, jauh melebihi Thailand (50 Milyar Dollar), Vietnam (43 Milyar Dollar), Malaysia (26 Milyar Dollar), dan Filipina (25 Milyar Dollar). Nilai tersebut di dapat dari bisnis E-Commerce, Online Travel, Online Media, dan Jasa Transportasi Online.

 

Riset Bank Dunia menyebutkan, dengan berbagai kondisi yang terjadi di Indonesia, sejak 2015 Indonesia membutuhkan sekitar 600.000 talenta digital per tahun. Dan, di tahun 2030, jumlah kebutuhannya akan mencapai 9 juta talenta yang siap bekerja di jalur digital.

 

Untuk itu, Pemerintah Indonesia pun  memulai program untuk menangani kebutuhan infrastruktur digital, kemampuan sumber daya manusia, dan untuk menjembatani kesenjangan regulasi dan insentif. Namun tetap saja, jumlah talenta teknologi Indonesia dinilai jauh dari kata cukup. 

 

Indonesia memiliki demand  yang tinggi untuk technical  talent, tetapi negara hanya  mencetak 0,8 lulusan STEM per 1.000 orang, jauh di bawah  China (3,4) dan India (2,0). 

 

Di samping itu, ada lagi isu soal kompetensi. Berdasarkan hasil uji PISA OECD  2015, Indonesia berada di  peringkat 10 terbawah dari 72  negara untuk matematika,  membaca, dan sains. Dan, lebih dari 55% orang Indonesia yang lulus  pendidikan formal tidak punya  kompetensi cukup untuk  membuat mereka lebih produktif.

 

Saat talenta Indonesia tidak ready, kebutuhan perusahaan terkait digital semakin masif. Semakin banyak teknologi baru yang perlu disuntikkan ke dalam produk agar bisa bersaing di pasar ekonomi dunia.

 

Jelas, kondisi ini harus diakhiri. Sebagai bangsa yang besar dan memiliki kapabilitas melakukan banyak hal, kondisi ini harus diakhiri. Salah satunya dengan mendukung berbagai program pemerintah yang menyangkut pengadaan dan peningkatan kualitas talenta teknologi.

 

Sebagai orang tua, tak ada salahnya kita membantu mengenalkan area teknologi sebagai pilihan karir pada anak. Caranya, mungkin dengan mengenalkan konsep coding sedini mungkin.

 

Toh, tidak ada yang salah tentang hal ini. Meski masih diperdebatkan, sebenarnya banyak hal positif yang bisa didapat dari mengenalkan coding pada anak-anak sejak dini. Dan, caranya tidak harus selalu menggunakan komputer.

 

Origami dan beberapa permainan lain bisa digunakan untuk mengenalkan coding. Dengan mengenalkan coding, banyak hal positif yang bisa didapat anak. Seperti, tidak takut berbuat salah dan punya semangat terus mencoba.

 

Dan yang terpenting, kita bisa membangun minat mereka akan teknologi. Menjadikan mereka sosok-sosok yang dibutuhkan tanah air kita tercinta, talenta teknologi siap pakai, yang bisa bersaing dengan talenta asing, dan menjadi raja di negeri sendiri. 

 

STILL NOT SURE WHAT TO DO?
We are glad that you preferred to contact us. Please fill our short form and one of our friendly team members will contact you back.
Form is not available. Please visit our contact page.
X