Programmer Indonesia yang Mendapat Pengakuan Dunia

by Yayasan Matahati Kita

Programmer Indonesia yang Mendapat Pengakuan Dunia

Indonesia memiliki programmer andal yang mendapat pengakuan dunia internasional. Hanya saja, jumlahnya memang masih kurang. Sehingga, kita butuh lebih banyak programmer lagi yang bisa membuat negeri ini maju dan bersaing dengan bangsa lain di bidang digital.

 

Sebagai inspirasi, berikut beberapa sosok programmer Indonesia yang berhasil memukau di pentas dunia!

 

Yuma Soerinato

Tahun 2017 silam, seorang anak Indonesia berhasil membuat heboh di ajang World Wide Developers Conference (WWDC). Namanya Yuma Soerinato, dan saat itu usianya baru 10 tahun.

 

Sebagai info, WWDC adalah acara tahunan yang diselenggarakan oleh Apple, dan menjadi ajang berkumpul bagi para programmer yang berkecimpung dalam pembuatan aplikasi. Saat itu, Yuma menjadi sosok partisipan termuda.

 

Di ajang tersebut, Yuma memamerkan aplikasi buatannya yang berguna untuk membantu orang tua menentukan harga sebuah barang ketika berbelanja. Keahlian Yuma dalam membuat program aplikasi juga berhasil menarik perhatian CEO Apple Tim Cook yang memuji hasil karyanya.

 

Dan, kiprah Yuma terus berlanjut. Bocah yang menempuh pendidikan dasar di Middle Park Primary School di Melbourne ini terus menelurkan aplikasi seru.  Hingga saat iniYuma sudah berhasil menciptakan lima aplikasi yaitu Lets Stack!, Hunger Button, Kid Calculator, Weather Duck, dan Pocket Poke.

 

Calvin Kizana

 

Tahun 2008, ada seorang programmer Indonesia yang mendapat perhatian dunia. Saat itu, Calvin Kizana, dikenal sebagai pembuat situs WAP Nokia dan Yahoo!

 

Dalam pidato sambutan pada acara Government Leader Forum – yang menghadirkan bos besar Microsoft Bill Gates– tahun 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sempat menyebut nama Calvin Kizana sebagai salah satu kebanggaan Indonesia. Maklum, melalui kreasi Calvin saat itu, situs WAP Nokia telah dikembangkan ke dalam 17 bahasa dan digunakan di 35 negara. Tak hanya itu, perusahaan yang didirikannya–yakni, Elasitas Technology Ltd.–sukses go global.

 

Jenjang karir Calvin yang lulusan Universitas Bina Nusantara ini lumayan mulus. Setelah sempat menjadi programmer, web designer, dan desainer grafis di sebuah perusahaan di Singapura dan Amerika Serikat, Calvin memutuskan kembali ke Indonesia. Pada 2002, ia membentuk Elasitas, yang awalnya hanya bermodal satu unit komputer dan seorang asisten. Bidang usahanya mengerjakan proyek-proyek pesanan pembuatan web design dari mantan kliennya di AS.

 

Kala itu, Calvin sukses membawa perusahaannya go global. Sekarang, Elasitas sudah memiliki kantor perwakilan di Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Hanoi dan Australia. Sebuah prestasi yang luar biasa untuk perusahaan programming Indonesia.

 

 

Diky Arga Anggara

 

Mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang ini mencetak sebuah prestasi yang cukup membanggakan. Lewat program ciptaannya, Diky berhasil unjuk gigi dalam kompetisi programmer dunia di London, Inggris. Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika ini tampil dalam ajang bertajuk Mozzila Festival atau MozFest 2016, sebuah festival yang mewadahi programmer – programmer kelas dunia serta kompetisi dengan peseta dari berbagai negara.

 

Dalam ajang tersebut, Diky menampilkan program ciptaannya dalam bentuk software TeaLinux Operating System (TOS). Program yang ia ciptakan merupakan sebuah sistem operasi komputer yang disesain khusus untuk para programmer. Dikembangkan bersama komunitasnya, yakni Dinus Open Source Community (Doscom), program yang dikembangkan oleh Diky mampu menyita perhatian peserta lain di ajang bergenggsi tersebut.

 

Hal itu tidak lain karena filosofi menarik yang terkandung dalam program ciptaan Diky. “Nikmatnya sebuah racikan” merupakan filosofi yang terkandung dalam software buatan Diky ini sesuai namanya yaitu TeaLinuxOS. Selain itu, software ini dikembangkan untuk menghasilkan sitro Linux pemrograman untuk dunia pendidikan.

 

Persaingan Diky untuk masuk dalam ajang ini pun tidak mudah. ia harus bersaing dengan para programmer di seluruh dunia agar bisa menjadi salah satu bagian dari hampir 900 proposal dan 10 kategori yang dibuka dalam MozFest 2016. Baginya, ajang ini merupakan sebuah pembuktian akan karyanya yang juga ikut membawa nama negara ke kancah dunia.

 

Sindunata Sudarmaji 

 

Sindunata Sudarmaji namanya. Dia berhasil memenangkan kompetisi programming bertajuk TopCoder Open (TCO) World Championship 2006 untuk kategori Design dan Development.

 

Kompetisi yang digagas oleh TopCoder Inc. ini memberikan pujian khusus pada Sindu yang berhasil mengaplikasikan software berbasis rancangan dengan ketentuan tertentu. Dan di  kompetisi Development, Sindu berhasil mengembangkan komponen software re-usable.

 

Sindu berhasil menyisihkan 4200 peserta yang berasal dari 200 negara di dunia dan berhasil mengungguli 64 finalis lainnya yang berasal dari 19 negara.

 

Hari ini, Sindunata bermukim di Jepang dan menjadi developer di Barclays, setelah sebelumnya sempat bekerja di UBS Securities, Jepang.

 

STILL NOT SURE WHAT TO DO?
We are glad that you preferred to contact us. Please fill our short form and one of our friendly team members will contact you back.
Form is not available. Please visit our contact page.
X