Designed by macrovector / Freepik

Orang Tua dan Gaya Belajar Anak di Masa Pandemi

Sekitar 97% orang tua sulit beradaptasi dengan gaya belajar anak di masa pandemi. Data ini didapat dari survei internal Yayasan Matahati yang melibatkan orangtua siswa SD kelas 1-3 di akhir Juli 2020. Hampir semua sepakat, ada permasalahan dalam menerapkan pola pembelajaran jarak jauh (PJJ).

 

Apa saja permasalahannya? Ternyata, ada 1001 permasalahan yang berbeda bagi tiap individu. Mulai dari anak tidak bisa konsentrasi, terlalu banyak distraksi di rumah, metode pembelajaran yang dirasa kurang efektif karena penyampaian bahan ajarnya kurang jelas, hingga kesulitan mendampingi anak belajar karena orangtua juga harus bekerja di rumah.

 

Sekitar 66% dari responden mengaku telah mengonsultasikan hal tersebut pada sekolah, dan sekitar 81, 2% dari kelompok ini merasa cukup puas dengan perbaikan sekolah terhadap masukan yang diberikan.

 

Ini menjadi bukti, bahwa sekolah -dimanapun lokasinya- berupaya untuk memperbaiki PJJ yang terpaksa dijalankan di masa pandemi ini. Hal ini juga diamini oleh hampir separuh orang tua murid Sekolah Dasar yang sempat menjalani proses PJJ selama semester lalu. Sekitar 53% mengatakan bahwa ada perbaikan yang dilakukan sekolah dalam proses PJJ.

 

Perbaikan ini cukup diapresiasi oleh orang tua. Buktinya, sekitar 83,3% responden merasa cukup yakin bahwa sistem PJJ di awal tahun ajaran ini akan lebih menjanjikan. Kendati demikian, problem konsentrasi anak, sulitnya belajar tanpa bimbingan guru, orangtua yang mulai masuk kantor, dan buruknya jaringan masih menjadi kendala. Namun, tidak lagi sesulit yang dihadapi selama bulan Maret – Juni 2020 lalu.

 

Proses perbaikan ini juga berakibat pada persepsi orang tua siswa kelas I SD pada proses PJJ. 77,8% orangtua siswa  merasa kalau proses pembelajaran yang dihadapi anaknya cukup bisa dipahami. Dan 79% dari merek juga cukup yakin penggunaan piranti digital tidak menghambat proses pembelajaran yang dijalani anak-anak.

 

Data menunjukkan, permasalahan yang kerap dihadapi dalam penggunaan piranti digital adalah kemampuan anak mengoperasikan gawai (61,1%). Namun, anak dianggap cukup bisa beradaptasi dengan cepat dalam menggunakan gawai. Sekitar 86,1% orang tua yang menjadi responden, merasa bahwa anak-anaknya tidak mengalami kesulitan dalam beradaptasi belajar menggunakan gawai.

 

Tingkat adaptasi anak dengan gawai di era digital ini memang luar biasa. Keseharian anak yang dekat dengan gawai membuat mereka lebih mudah mencerna berbagai pelajaran yang didapat dengan gaya PJJ. Ini juga yang membuat 80,6% responden tertarik untuk mengeksplorasi gawai dalam mendukung proses belalar mengajar.

 

***

 

Proses pembelajaran digital ternyata tidak lagi menjadi momok orang tua. Menurut survei yang kami gelar, sekitar 55,6% merasa bahwa anak-anak memang harus dikenalkan dengan dunia digital sejak dini. Sementara, hanya 27,8% yang merasa anaknya tidak memerlukan eksplorasi digital terlalu awal, dan 16,2% memilih untuk berada di tengah-tengah.

 

Kendati demikian, saat ditanya apakah konten digital berupa game  bisa membantu anak dalam mengeksplorasi pelajaran, 75% responden sepakat untuk mengiyakan. Dan hanya 25% yang tidak yakin dengan gaya belajar menggunakan perangkat digital.

 

Meski tidak yakin, ada beberapa dari responden di atas yang bersedia mencoba mengenalkan anak pada perangkat digital yang bisa membantu anak belajar. Data menyebutkan sekitar 88,9% dari seluruh responden tertarik untuk melakukan hal ini.

 

Jika Anda termasuk dari 88,9% yang ingin mencoba mengenalkan perangkat digital yang bisa membantu anak dalam belajar, mungkin Anda bisa mencoba beberapa permainan yang kami siapkan spesial untuk kebutuhan tersebut. Karena, kami di Yayasan Matahati Kita percaya akan efektivitas konsep pendidikan berbasis teknologi. Dan tentunya dihadirkan berdasarkan hasil riset yang mendalam.

 

Sila lihat di google playstore atau appstore dan cari game Bantu Belajar yang kami kembangkan . Ada game Pak Lurah Korup, Agen Umroh Nakal, yang keduanya membantu anak untuk memahami esensi dari pelajaran IPA di kelas 4 dan 5, serta Bantu Belajar IPA 3. Ada juga game Superhero Diary untuk anak berkebutuhan khusus yang bisa diunduh di google playstore atau appstore.  Semuanya dirancang dengan pola gamifikasi yang engaging dan membuat anak tidak merasa bahwa dia sedang belajar.

 

Nah, tunggu apa lagi? Coba kenalkan anak Anda dengan game seru ini dan rasakan hasilnya!