Matata Edu Inovasi Menjadi Rekanan EDC Indonesia untuk Menjawab Tantangan Masa Depan

by Junior Eka Putro

Matata Edu Inovasi Menjadi Rekanan EDC Indonesia untuk Menjawab Tantangan Masa Depan

Bonus demografi yang dialami Indonesia bisa menjadi petaka jika hal itu tidak dibarengi oleh kesiapan yang matang. Baik di sektor industri sebagai penyerap tenaga kerja, juga dalam hal kecakapan yang dimiliki oleh tenaga kerja. 

Bappenas memprediksi, di tahun 2030-2040, Indonesia akan mengalami bonus demografi. Hal ini terkesan positif. Di masa tersebut,  64% penduduk Indonesia akan berada dalam usia produktif dan berpotensi mendongkrak perekonomian Indonesia.

Namun, bonus ini bak pisau bermata dua.   Saat angkatan produktif tidak terlatih, maka produktivitas yang diharapkan tidak akan tercapai. Bahkan bisa membebani perekonomian nasional.

 Sebagai ilustrasi, ada sebuah laporan dari McKinsey Global Institute pada 2017 yang menyatakan bahwa memasuki era bonus demografi nanti, sekitar lebih dari sepertiga dari 60% jenis pekerjaan akan tergantikan oleh otomatisasi. Yang artinya, dibutuhkan kecakapan khusus dari calon tenaga kerja untuk bisa beradaptasi dalam mengoperasikannya.  

Sumber yang sama menyebutkan, hingga saat ini sekitar 41% dari 6,6 juta tenaga kerja yang ada, masih mengalami gegar kecakapan di bidang teknologi informasi, yang notabene merupakan kecakapan vital di pasar tenaga kerja masa depan. Sekitar 30% dari angka itu, masih belum memiliki kecakapan interaktif (negosiasi, persuasi dan pelayanan pelanggan), sementara hingga 25% dari jumlah tersebut dinilai masih berada dalam level minimal kecakapan fondasional, seperti belajar, menulis dan membaca secara aktif.

 Padahal, semua kecakapan itulah yang sungguh diperlukan dalam menghadapi persaingan di pasar kerja. Serapan industri lebih mengarah pada tenaga kerja dengan komposisi kecakapan digital sebesar 23%, dan kecakapan non-teknis alamiah sebesar 33%.

 Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Daerah DKI Jakarta sudah memiliki strategi yang dituangkan dalam Butir 3 dan 4 Keputusan Gubernur nomer 1107 tahun 2019 serta Peraturan Gubernur nomer 32 tahun 2019 mengenai Revitalisasi SMK yang diletakkan sebagai salah satu Kegiatan Strategis Daerah.

 Kelas Industri adalah salah satu program yang dirancang sebagai implementasi dari strategi tersebut. Proyek AWARE (Accelerating Work Achievement and Readiness for Employment) yang digagas oleh Education Development Centre Indonesia (EDC Indonesia) disiapkan sebagai jawaban. Program ini melibatkan seluruh stakeholder dengan obyektif mengalibrasi kecakapan yang dimiliki lulusan SMK agar sesuai dengan kebutuhan industri hari ini dan ke depannya nanti.

 Embrio program ini, seperti dijelaskan oleh Priska Sebayang, Country Director EDC Indonesia, telah ada sejak 2013.

 “Kami melihat betapa gentingnya persoalan ini jika tidak segera ditangani secara serius dan menyeluruh sejak dini. Oleh karena itu, pada 2013 kami menginisiasi sebuah program yang tepat sasaran, dan secara bertahap nantinya diharapkan bisa membuka mata mitra pemerintah di provinsi lain untuk ikut berpartisipasi. Setidaknya bisa lebih aktif dalam mengubah arah kebijakannya untuk menjawab permasalahan ini secara konkrit, seperti yang tengah dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta,” terangnya.

 Sudah berjalan dua tahap, proyek AWARE akan berlanjut ke tahap 3 yang berlangsung mulai 2021 hingga 2023. Di tahap ini, EDC Indonesia menggamit PT Matata Edu Inovasi (PT MEI) sebagai satu-satunya mitra pelaksana lokal kegiatan ini. Perusahaan teknologi informasi yang mengkhususkan diri di bidang edukasi ini mengelola sebuah platform bernama Bantu Kerja, yang secara prinsip memiliki kesamaan visi dan pola dengan apa yang dibayangkan oleh EDC Indonesia.

 “Lama berkecimpung di bidang edukasi kami melihat masih ada gap antara kebutuhan dunia usaha dan dunia industri dengan keterampilan sumber daya manusia yang dihasilkan oleh banyak sekolah saat ini. Dan itu lebih diakibatkan oleh ketiadaan komunikasi antara DUDI dengan pihak sekolah sendiri. Itu pula yang melatari kami membangun platform Bantu Kerja yang menjadi narahubung kedua stakeholder tersebut,” terang Tari Sandjojo, CEO PT MEI.  

 Sebenarnya, kemitraan antara PT MEI dan EDC Indonesia sudah berlangsung sejak AWARE tahap 2. PT MEI banyak berperan dalam menyiapkan modul-modul serta pola kolaborasi yang diperlukan terutama dalam mengintegrasikan kebutuhan mitra industri ke dalam kurikulum bagi program yang saat itu masih dinamai Bengkel Digital tersebut. Tak hanya itu, sesuai dengan perannya sebagai mitra pelaksana, PT MEI juga membantu EDC Indonesia sebagai fasilitator di lapangan.

 Sepanjang 2020 lalu, EDC Indonesia dan PT MEI melakukan pemetaaan kembali dalam rangka menyusun kerangka kerja Kelas Industri yang lebih terarah dan terukur. Dari situlah muncul rumusan bahwa Kelas Industri adalah sebagai kelas khusus yang dikembangkan oleh industri bersama dengan sekolah; terdiri dari modul pembelajaran dan magang virtual berbasis proyek, yang dengan intensif membekali siswa dengan keterampilan siap kerja.

 Dalam pelaksanaannya, ada beberapa tahap yang dijalani oleh tiap SMK yang ikut di kelas khusus ini. Meliputi: 

–           Penyelarasan kebutuhan industri dengan kompetensi SMK

–           8 (delapan) sesi pembekalan, diisi oleh Praktisi industri (Master Class)

–           8 (delapan) minggu periode pelaksanaan magang (virtual) berbasis proyek

 Keseluruhan program di tiap SMK diperkirakan berlangsung selama tiga hingga empat bulan dengan output sertifikat dari industri untuk siswa/i dan sekolah. Selain itu diharapkan pola kolaborasi intensif macam ini tetap bisa dijalankan oleh pihak sekolah dan industri bahkan setelah program berakhir.

 

STILL NOT SURE WHAT TO DO?
We are glad that you preferred to contact us. Please fill our short form and one of our friendly team members will contact you back.
Form is not available. Please visit our contact page.
X