Designed by master1305 / Freepik

Kapan Waktu yang Tepat Buat Anak Belajar Coding?

Pengodean (coding) adalah lingua franca baru. Menurut IDC, sebuah firma market intelejen global terkemuka, bahasa coding hari ini digunakan sekitar 20 juta dari 3 miliar tenaga kerja global.  Artinya, pengodean amatlah penting. 

Fakta ini, membuat semua orang mendukung pengodean jadi bahan ajar utama untuk generasi baru. Bahkan, perusahaan-perusahaan besar telah mengusulkan agar semua orang mempelajari pengodean setidaknya satu jam per hari.

 

Banyak tokoh-tokoh besar yang bicara tentang hal ini. Barack Obama salah satunya. Ingat dong sama quotes-nya yang ternama soal ini? “Jangan cuma main-main di posel. Coba untuk memprogramnya!” ucap mantan Presiden Amerika Serikat ini, lantang.

 

Di Inggris, pengodean bahkan sudah meminta sekolah-sekolah untuk mengajarkan pengodean pada siswa. Sementara, di Estonia, Finlandia, Italia, dan tetangga kita Singapura, pengodean sudah masuk dalam instruksi kelas. Pertanyaannya, kapan sebenarnya waktu yang tepat mengajarkan pengodean pada anak?

 

Banyak ahli sepakat pengodean harus dimulai sejak dini. Saat banyak siswa yang nggak terlalu minat mempelajari Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika, pengodean bisa jadi hal menarik buat mereka. Karena pengodean bisa menantang anak-anak untuk melakukan hal baru seperti layaknya permainan. Dan, yang dibutuhkan untuk mengenalkan pengodean pada anak tidak banyak. Selama mereka sudah memiliki dasar membaca dan menulis, mereka bisa mempelajari bahasa program yang paling umum.

 

Atas dasar pemikiran ini, banyak pihak yang mulai mencoba untuk mengenalkan proses pengodean pada anak sejak dini. Tentunya melalui cara yang menarik. Lego’s WeDo dan Scracth Jr misalnya. Kedua program ini disiapkan untuk balita belajar keterampilan dasar pengoden. Tentu saja, didesain sedemikian rupa dengan mengandalkan visual. Dimana blok kode dapat diurutkan secara mudah, dan bahkan diulang tanpa sintaksis yang rumit. 

 

Program serupa yang mengandalkan visual bisa juga ditemui di Google’s Blockly atau Hopscotch. Namun, kedua program ini memang membutuhkan keterampilan membaca yang sedikit lebih advanced dibanding program yang sudah disebut sebelumnya.

 

Michael Resnick, Associates Developer Scratch Jr. di MIT mengatakan bahwa mengode adalah cara lain bercerita. Anak-anak dapat “menghidupkan karakter mereka dalam cerita” lewat kegiatan ini. 

 

Sementara, Marina Umaschi Bers, co-developer Kibo dan Scratch Jr mengatakan bahwa saat mengode, anak-anak bisa mengembangkan keterampilan matematika dasar dan logika suara. Semua dilakukan bersamaan dengan saat mereka mempelajari dasar-dasar pemrograman.  

 

Lebih lanjut soal pengodean, Seymour Papert, salah satu pelopor literasi komputer dan pencipta Logo Turtle pernah menulis bahwa banyak anak mengalami kesulitan karena model pembelajaran tradisional berfokus pada konsep benar versus salah.Sementara, saat memprogram, anak-anak tidak diajak untuk mempermasalahkan benar atau salah. Mereka diajak mengisolasi bug. Mengajak mereka untuk berupaya memperbaiki sesuatu.Hal inilah yang membuat anak-anak lebih loose, karena mereka tidak diintimidasi ketakutan akan berbuat salah.

 

Toh, memang baru sedikit penelitian yang dilakukan seputar efek belajar mengode pada anak-anak. Masih banyak ahli yang kurang setuju soal mengajari anak balita belajar mengode. Dr Jim Taylor misalnya. Psikolog dan penulis Raising Generation Tech: Prepare Your Children for a Media-fueled World, berpendapat bahwa aktivitas lain  jauh lebih penting bagi perkembangan anak-anak.  Dan dia mengatakan bahwa dorongan belajar mengode ini muncul karena dorongan rasa takut dalam diri orang tua bahwa anak-anak mereka akan tertinggal perkembangan teknologi di masa depan.

 

Namun, banyak juga yang sepakat bahwa tidak masalah anak-anak belajar mengode sejak dini. Salah satunya adalah Lawrence Balter, Psikolog terapan dan pakar parenting dari Universitas New York. Menurutnya, tidak ada masalah dengan belajar mengode di usia balita, selama itu dilakukan dalam lingkungan sosial dan tidak menggantikan aktivitas penting lainnya seperti membaca dan melakukan permainan terbuka. 

 

Hal senada juga diungkap oleh Yasmin Kafai, penulis Connected Code: Why Children Need to Learn Programming. Yasmin mengatakan, meskipun keseimbangan aktivitas adalah kunci, pengodean sebenarnya bisa menjadi “alternatif saat menggunakan iPad”. Dimana anak-anak dapat belajar lebih berperan aktif. Mengajak mereka membuat konten, dibanding sekadar mengonsumsinya. 

 

Debat pasti akan berlanjut. Namun, banyak pihak yang yakin kalau pemrograman akan semakin diintegrasikan dalam kurikulum sekolah. Dan ini akan terjadi di seluruh dunia. Dimana semua anak muda akan melajar mengode di semua disiplin ilmu.

 

Di literasi awal misalnya, anak-anak bisa membuat animasi tentang ulat yang sangat lapar dan ingin memakan makanan yang baru. Sementara, di matematika, siswa diajar untuk membuat cerita dengan teka-teki yang harus dipecahkan oleh teman sekelas mereka. Di studi sosial, siswa bisa diajak merancang peta interaktif di mana saat mengklik suatu negara di peta, orang bisa menemukan benderanya. Semuanya dibuat sederhana, sesuai dengan perkembangan usia anak.

 

Menariknya, seperti semua bahasa dan dialek, bahasa program akan terus berkembang dan  menjadi lebih intuitif seiring berjalannya waktu. Saat komputer semakin cerdas, semua orang bahkan akan lebih mudah untuk menginstruksikan sesuatu pada komputer dengan bahasa yang lebih mudah dipahami. Dan itu membuat proses pemrograman semakin bisa dipahami oleh anak-anak yang lebih muda. Bahkan saat mereka masih dalam kategori toddler suatu hari nanti.