Berkenalan dengan Masyarakat Pintar

Apa yang mendorong perkembangan teknologi? Semua ahli sepakat, kebutuhan manusia adalah jawabnya. Saat manusia membutuhkan sesuatu, yang mereka lakukan adalah berinovasi. Menghadirkan ide-ide dan menciptakan hal-hal baru demi memenuhi kebutuhannya.

Ini juga yang mendorong lahirnya revolusi industri. Setiap revolusi industri yang terjadi, adalah jawaban manusia terhadap kebutuhan-kebutuhan mereka.

Namun, yang tidak banyak disadari adalah, revolusi industri yang menghasilkan kemajuan teknologi juga mengubah masyarakat. Masyarakat beradaptasi. Menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. Mereka berproses, menyesuaikan diri dengan perkembangan, dan menjadi masyarakat yang lebih maju.

Dahulu kala, saat manusia adalah mahluk yang hidup dari berburu dan memungut (hunter-gather society), muncul cendekiawan yang menciptakan peralatan mekanik. Mekanisasi diyakini sebagai titik awal revolusi industri di tahun 1300 SM. Kehidupan manusia pun berubah, mereka tidak lagi eskadra berburu dan memetik dari tumbuhan. Mereka mulai bertani, beternak. Dan tidak lagi mengandalkan hidup mereka 100 % dari pemberian alam. Manusia menjelma jadi Masyarakat Petani.

Lama setelahnya, di abad ke 18, lahirlah revolusi industri ke II yang ditandai dengan lahirnya mesin uap. Mesin yang memungkinkan orang bertualang ke mana-mana dalam waktu yang jauh lebih singkat dengan kereta uap. Membuat pertemuan antarmanusia menjadi masif. Dan lahirlah kebutuhan untuk memproduksi secara massal.

Dari sini, lahirlah masyarakat industri. Dukungan mesin uap dalam proses produksi massal, membantu melahirkan industri di berbagai bidang. Teknologi pun terus berkembang, mendukung proses industrialisasi.

Di abad ke 20, revolusi industri ke III kembali terjadi saat manusia menciptakan komputer. Proses penyebaran informasi menjadi santa cepat. Dan semakin ke sini, jarak menjadi sangat tidak relevan. Hal ini melahirkan Masyarakat Informasi yang sering disebut sebagai Masyarakat 4.0.

Perkembangan teknologi tidak berhenti begitu saja. Munculnya internet mendorong lahirnya Internet of Things. Dimana semua piranti terhubung satu sama lain. Menjadikan semua terkoneksi, dan dapat dipantau dengan mudah. Kondisi di abad 21 ini akhirnya melahirkan masyarakat baru yang kita kenal sebagai Masyarakat Pintar.

Siapa yang akan menjadi Masyarakat Pintar? Mereka adalah generasi Z dan alpha. Generasi yang lahir di masa IoT dan tumbuh di tengah koneksivitas tinggi. Generasi yang lahir di era smart technology. Yang pastinya sudah tidak lagi merasa gaptek saat bertemu teknologi tinggi.

Anak-anak kita merupakan bagian dari masyarakat pintar ini. Mereka lahir di tengah hiruk-pikuk teknologi. Mereka siap menjadi warga masyarakat yang tidak dibatasi lokasi.

Sayangnya, banyak orang tua yang masih antipati dengan gadget dan game. Mereka memilih menjauhkan anak-anaknya dari gadget selama mungkin. Menjadikan mereka “manusia analog” di tengah keriuhan digital.

Bisa dimengerti. Gadget dianggap merampas fokus. Membuat anak tergila-gila bermain. Padahal, jika digunakan dengan baik, banyak hal yang bisa dilakukan teknologi untuk membantu perkembangan anak.

Hari ini, banyak game-game yang membangun logika anak. Mengoding lewat gadget juga merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat. Tentunya, semua itu dilakukan di bawah pengawasan.

Sejujurnya, ada baiknya kita mendampingi anak saat bereksplorasi di depan layar. Memberikan pengertian-pengertian, sekaligus ikut belajar. Namun, memang kita juga harus memperhatikan waktu layar anak. Memberikan batasan bagi anak yang lebih kecil, dan pelan-pelan melebarkan batasan tersebut seiring bertambahnya usia.

Biarkan anak-anak kita menjadi bagian dari Masyarakat Pintar. Dengan cara bersosialisasi yang berbeda dengan kita. Yang kita perlu lakukan adalah mengingatkan dan membimbing mereka pada pergaulan analog yang juga penting dalam proses bermasyarakat.