Atlet E-Sports, Pilihan Karir yang Menjanjikan

Bermain game masih memiliki kesan yang buruk di mata sebagian besar orang Indonesia, terutama orang tua. Sehingga banyak anak muda yang masih dilarang untuk bermain game oleh orang tuanya. 

Padahal, saat ini, dunia Esport telah menawarkan karir yang menjanjikan melalui turnamen-turnamennya. Untuk skala nasional ada turnamen Point Blank National Championship dengan total hadiah sebesar Rp2,2 miliar dan AOV Star League dengan total hadiah sebesar Rp2,6 miliar. Indonesia juga pernah menjadi turnamen Esport skalainternasional yaitu turnamen GESC: Indonesia Dota 2 Minor dengan jumlah hadiah sebesarUS$300.000 atau setara dengan Rp4,3 miliar.

Sementara, di skala internasional, rekor turnamen dengan jumlah hadiah terbesar dipegangoleh Valve dengan turnamen The International. Pada The International 2019, total hadiah yang

disediakan adalah sebesar US$34.000.000 atau setara dengan Rp483,5 miliar. Sebuahangka yang fantastis bukan?

Jumlah hadiah yang sangat besar ini berperan besar pada jumlah pendapatan atlet Esport. Pada peringkat pertama atlet Esports berpendapatan fantastic ada pemain Dota 2 profesional bernama Johan Sundstein. 

Pemain dari tim OG ini memiliki total pendapatan sebesar 6,889,591 US dollar atau setara dengan 97 miliar rupiah. Angka yang fantastis ini membuktikan bahwa dunia Esport bukan lagi hanya sebagai tempat hiburan semata, tapi Esport juga memberikan jenjang karir yang menjanjikan.


Lantas, bagaimana kita bisa mendukung anak jadi atlet E-sports?


Mulailah dengan mendampingi anak saat bermain. Di artikel sebelumnya, kami sudahpernah menuliskan dampak positif game online pada perkembangan anak. Dengan mendampingi mereka bermain, kita jadi tahu seperti apa kesukaan anak pada game, dan bagaimana mengatur waktu bermain mereka.

Dengan dukungan yang tepat, anak akan mengembangkan diri sesuai bakat dan minatnya. Tentu saja, mereka akan lebih termotivasi karena ada orang tua yang mendampingi mereka.